Apa Itu El Nino & La Nina

      Nama El Niño diambil dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki”, merujuk pada bayi pada suatu agama dan digunakan karena arus ini biasanya muncul selama kegiatan keagamaan. Karena fluktuasi dari tekanan udara dan pola angin di Selatan Pasifik yang menyertai El Niño, fenomena ini dikenal dengan nama El Niño Southern Oscillation (ENSO). Dan La Nina berarti “anak perempuan”. Kata “Osilasi Selatan” diberikan oleh Sir Gilbert Walker pada tahun 1923. Walker adalah seorang peneliti, khususnya tentang monsoon India yang menjadi Direktur Jendral Pengamatan di India tahun 1904. Namanya diabadikan pada nama sirkulasi Walker yang berarah timur-barat (zonal). Di daerah tropis di Indonesia terdapat sirkulasi zonal (Walker) dan meridional (Hadley) yang berarah utara-selatan serta sirkulasi lokal.

A. Definisi

    El Niño adalah  kondisi abnormal iklim dimana penampakan suhu permukaan laut Samudra Pasifik ekuator bagian timur dan tengah  (di pantai Barat Ekuador dan Peru) lebih tinggi dari rata-rata normalnya. Istilah ini pada mulanya digunakan untuk menamakan arus laut hangat yang terkadang mengalir dari Utara ke Selatan antara pelabuhan Paita dan Pacasmayo di daerah Peru yang terjadi pada bulan Desember. El Nino adalah fenomena alam dan bukan badai, secara ilmiah diartikan dengan meningkatnya suhu muka laut di sekitar Pasifik Tengah dan Timur sepanjang ekuator dari nilai rata-ratanya dan secara fisik El Nino tidak dapat dilihat.

   La Nina adalah pola iklim yang ditandai oleh menurunnya temperatur (lebih dingin) pada permukaan air laut di sepanjang khatulistiwa (daerah ekuatorial) Samudera Pasifik. Temperatur pada permukaan air laut yang lebih dingin dibanding biasanya akan menyebabkan terhambatnya pembentukan awan hujan pada sisi timur ekuatorial Samudera Pasifik (yang mengarah ke Amerika Selatan), sementara di saat yang sama, temperatur air laut yang lebih dingin akan memicu terjadinya peningkatan hujan pada sisi barat ekuatorial Samudera Pasifik (yang mengarah ke Indonesia, Malaysia dan Australia).

   Indikator untuk memantau kejadian El Nino, biasanya digunakan data pengukuran suhu permukaan laut pada bujur 170°BB -120°BB dan lintang 5°LS – 5°LU, dimana anomali positif  mengindikasikan terjadinya El Nino. Dan fenomena La Nina ditandai dengan  menurunnya suhu permukaan laut pada bujur 170°BB – 120°BB dan pada lintang 5°LS – 5°LU dimana anomali negatif, sehingga sering juga disebut sebagai fase dingin. Kedua fenomena di perairan pasifik ini memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan manusia.

B. Penyebab Terjadinya El Nino dan La Nina

1. Anomali suhu yang mencolok di perairan samudera pasifik.

2. Melemahnya angin passat (trade winds) di selatan pasifik yang menyebabkan pergerakan  angin jauh dari normal

3. Kenaikan daya tampung lapisan atmosfer yang disebabkan   oleh pemanasan dari perairan panas dibawahnya. Hal ini terjadi di perairan peru pada saat musim panas

4. Adanya perbedaan arus laut di perairan samudera pasifik.

C. Proses Terbentuknya El Nino dan La Nina

 – El Nino

  1. Pada bulan Desember, posisi matahari berada di titik balik selatan bumi, sehingga daerang lintang selatan mengalami musim panas. Di Peru mengalami musim panas dan arus laut dingin Humboldt tergantikan oleh arus laut panas. Karena kuatnya penyinaran oleh sinar matahari perairan di pasifik tengah dan timur, menyebabkan meningkatnya suhu dan kelembapan udara pada atmosfer.
  2. Tekanan udara di pasifik tengah dan timur rendah, kemudian diikuti awan-awan konvektif (awan yang terbentuk oleh penyinaran matahari yang kuat). Sedangkan di bagian pasifik barat tekanan udaranya tinggi yaitu di Indonesia (yang pada dasarnya dipengaruhi oleh angin musoon, angin passat dan angin lokal.
  3. Akan tetapi pengaruh angin munsoon yang lebih kuat dari daratan Asia), menyebabkan sulit terbentuknya awan. Karena sifat dari udara yang bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah. Menyebabkan udara dari pasifik barat bergerak  ke pasifik tengah dan timur. Hal ini juga yang menyebabkan awan konvektif diatas Indonesia bergeser ke pasifik tengah dan timur.
  • La Nina

La Nina sebaliknya dari El Nino, terjadi saat permukaan laut di pasifik tengah dan timur suhunya lebih rendah dari biasanya pada waktu-waktu tertentu. Dan tekanan udara kawasan pasifik barat menurun yang memungkinkan terbentuknya awan. Sehingga tekanan udara di pasifik tengah dan timur tinggi, yang menghambat terbentuknya awan. Sedangkan dibagian pasifik barat tekanan udaranya rendah yaitu di Indonesia yang memudahkan terbentuknya awan cumulus nimbus, awan ini menimbulkan turun hujan lebat yang juga disertai petir. Karena sifat dari udara yang bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah. Menyebabkan udara dari pasifik tengah dan timur bergerak ke pasifik barat. Hal ini juga yang menyebabkan awan konvektif di atas pasifik tengah dan timur bergeser ke pasifik barat.

D. Dampak El Nino dan La Nina di Indonesia

El Nino

  1. El Nino menimbulkan kekeringan panjang di Indonesia.
  2. Kondisi beberapa DAS di Indonesia cukup kritis dan jumlahnya semkain banyak
  3. Berkurang Banyak kerang yang mengalami keputihan atau coral bleaching
  4. Akumulasi curah hujan di wilayah Indonesiaberkurang, dan cuacanya cenderung lebih dingin serta kering.

La Nina

  1. Meningkatnya curah hujan di Indonesia yang bisa dimanfaatkan di bidang pertanian
  2. Suhu Permukaan Laut (SPL) menurun di wilayah Indonesia yang mengakibatkan melipah nya tangkapan ikan di perairan Indonesia  bagian timur
  3. Debit air di aliran sungai meningkat yang dapat dimanfaatkan untuk Pertanian dan PLTA
  4. Seiring meningkatnya curah hujan ketika La Nina, maka di beberapa daerah terjadi bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, banjir bandang).

E. Mitigasi El Nino dan La Nina di Indonesia

  1. Pemerintah hendaknya melakukan peringatan dini kepada masyarakat agar masyarakat bisa melakukan persiapan di segala sector dan bekerja sama dengan berbagai instansi terkait
  2. Hendaknya pemerintah dan juga masyarakat mempersiapkan cadangan makanan pokok (misalnya beras) untuk mengantisipasi paceklik pangan.
  3. Langkah lainnya, masyarakat Indonesia, terutama petani, harus meningkatkan produksi padi atau tanaman pokok untuk mencapai sasaran produksi yang telah ditetapkan sebelumnya.
  4. Langkah percepatan masa tanam di berbagai daerah juga harus diupayakan.
  5. Pemerintah bekerja sama dengan masyarakat juga bisa mengembangkan varietas padi yang bisa ditanam di area dengan debit air yang sedikit.
  6. Lahan basah atau daerah rawa juga bisa dimanfaatkan sebagai sawah. Daerah-daerah seperti di Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah yang memiliki lahan rawa seluas 1,8 juta hektar bisa dimanfaatkan sebagai lahan sawah.
  7. Langkah selanjutnya adalah memastikan gudang atau lumbung terjaga agar tetap surplus.
  8. Langkah terakhir adalah melakukan pengecekan saluran imigrasi, waduk, dan juga situ dan juga memastikan agar area tersebut berfungsi dengan baik untuk menghadapi ancaman kekeringan ketika bencana el nino dan la nina datang.
  9. Perbanyak Informasi terkait el nino dan la nina secara lengkap dri media masa dan juga media lainnya

Written by : Iqbal Nur WIjaya & Naufal Dhiya Ulhaq

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai