
Kota Ternate merupakan daerah otonomi bagian dari provinsi Maluku Utara, terdiri dari 8 pulau, yakni : pulau Ternate, pulau Moti, pulau Hiri, pulau Tifure, pulau Mayau, Pulau Gurida, Pulau Makka dan Pulau Mano.
Kota Ternate mempunyai ciri daerah kepulauan dimana wilayah terdiri dari tujuh buah pulau, lima diantaranya berukuran sedang merupakan pulau yang dihuni penduduk sedangkan tiga lainnya berukuran kecil dan hingga saat ini belum berpenghuni.
Kota ini memiliki curah hujan ekuatorial karena wilayahnya memiliki distribusi hujan bulanan bimodial dengan dua puncak musim hujan maksimum dan hampir sepanjang tahun masuk dalam kreteria musim hujan. Pola ekuatorial dicirikan oleh tipe curah hujan dengan bentuk bimodial (dua puncak hujan) yang biasanya terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober atau pada saat terjadi ekinoks.
KONDISI TOPOGRAFI
Kondisi topografi lahan kepulauan Ternate adalah berbukit bukit dengan sebuah gunung berapi yang masih aktif dan terletak ditengah pulau Ternate. Pulau Ternate memiliki kelerengan fisik terbesar diatas 40 % yang mengerucut kearah puncak gunung Gamalama terletak ditengah – tengah Pulau. Didaerah pesisir rata-rata kemiringan adalah sekitar 2% sampai 8%.
Kedalaman laut adalah bervariasi, pada beberapa lokasi disekitar P. Termate, terdapat tingkat kedalaman yang tidak terlalu dalam, sekitar 10 meter sampai pada jarak sekitar 100 m dari garis pantai sehingga memungkinkan adanya peluang reklamasi.
Selanjutnya dijelaskan bahwa kondisi topografi Kota Ternate juga ditandai dengan keberagaman ketinggian dari permukaan laut (Rendah: 0-499 M, Sedang: 500-699 M, dan Tinggi: lebih dari 700 M). Dengan kondisi tersebut, ciri Kota Ternate merupakan wilayah kepulauan, lima diantaranya didiami penduduk (Pulau Ternate, Hiri, Moti, Mayau, dan Tifure), sedangkan untuk tiga pulau yang berukuran kecil tidak dihuni (Pulau Maka, Mano dan Gurida.
KONDISI GEOGRAFIS
Kota Ternate terletak antara 3 derajat Lintang Utara dan 3 derajat Lintang Selatan serta 124 – 129 derajat Bujur Timur. Wilayak Kota Ternate di sebelah Utara, selatan dan Barat berbatasan dengan Laut Maluku, dan di sebelah Timur berbatasan dengan Selat Halmahera.
FAKTA UNIK KOTA TERNATE
Ternate juga memiliki agenda tahunan pada 16 sampai 23 September yang bernama festival Pulau Hiri. Festival yang bertujuan menjadi momentum menghidupkan kembali barbagai kearifan lokal yang mulai ditinggalkan di daerah.
Di antaranya tradisi babari atau gotong royong, menangkap ikan dengan menggunakan layangan, dan bersih laut. Selain itu, ditampilkan pula berbagai kegiatan lainnya. Seperti penampilan tarian Soya-soya massal, parade perahu hias tradisional, serta berbagai lomba kebarihan, seperti lomba dayung perahu tradisional.

Kalau kamu belum melihat festival di Ternate dan Tidore di atas, ada baiknya menyiapkan tiket pada 9-10 Desember 2017. Ada festival Kora-kora yang menampilkan beraneka ragam kebudayaan Maluku Utara mulai dari kesenian hingga kuliner.
Festival tersebut akan menampilkan berbagai aktivitas bahari, seperti lomba perahu tradisional Kora-kora, lomba memancing, lomba foto bawah laut, hingga lomba pawai perahu hias.
KONDISI CUACA KOTA TERNATE TAHUN 2018

Curah hujan bulanan tertinggi tercatat pada bulan Juni dengan 409,8 mm dan curah hujan harian tertingginya tercatat pada tangga 5 Juli dengan 94,0 mm.



