GELOMBANG GUNUNG DAN TURBULENSI
Gelombang gunung adalah gelombang gravity yang dipicu oleh aliran diatas gunung disebut sebagai gelombang gunung atau gelombang lee. Pada dasarnya adalah angin kencang yang menabrak tegak lurus halangan dalam lingkungan yang stabil.Gelombang gunung terjadi karena angin bertiup kencang mengarah ke puncak dan menghasilkan turbulensi saat mencapai sisi lain gunung.

Gelombang gunung yang energinya tidak merambat vertikal karena gaya geser angin kencang atau stabilitas rendah di puncak gunung dikatakan “terjebak”. Gelombang lee yang terjebak sering ditemukan hilir zona rotor.
Skematik sistem gelombang gunung menunjukkan aliran gelombang, biasanya cukup laminar, menghasilkan zona rotor diketinggian yang rendah. Turbulensi paling parah biasanya ditemukan dalam sirkulasi rotor yang terletak tepat di bawah puncak gelombang. Gelombang gunung yang membangkitkan rotor dapat membahayakan penerbangan. Sirkulasi rotor juga mungkin memiliki dampak penting pada transportasi aerosol dan mempengaruhi komposisi kimia dan biologi di daerah pegunungan.
Awan Gelombang Gunung
Gelombang pegunungan kadang memunculkan formasi awan yang dramatis, seperti lenticular dan awan rotor. Seringkali awan rotor berada cukup rendah, di bawah puncak gunung. Awan rotor terjadi jika tersedia kelembaban yang cukup , biasanya ditemukan di dekat bagian atas sirkulasi rotor dan di bawah awan lenticular.
Salah satu pengamatan terbaik terhadap struktur deretan pegunungan yang bisa membahayakan dan membangkitkan rotor dilakukan di atas Owens Valley,California, pada tanggal 16 Februari 1952 melalui percobaan gelombang Sierra (Holmboe dan Klieforth, 1957).

TURBULENSI
TURBULENSI adalah gerakan (udara) tidak beraturan atau berputar tidak beraturan akibat perbedaan tekanan atau temperatur. Fenomena ini, tentu sangat mengganggu penerbangan.
JENIS TURBULENSI
- Mechanical turbulence, yaitu karena gesekan angin dengan bangunan, gunung, dan lain-lain.
- Wake turbulence , disebabkan gerakan manuver pesawat. Semakin besar pesawat, semakin besar juga efek wake turbulence-nya. Bahkan, kalau ada pesawat kecil terbang di belakangnya bisa terkena efek.
- Convection turbulence , yaitu akibat udara panas yang mengalir ke atas sebagai akibat perbedaan temperatur. Inversion turbulence (perubahan arah angin/berbalik) karena perubahan temperatur, frontal turbulence atau perubahan arah angin (horizontal mendadak) karena perbedaan tekanan.
- clear air turbulence (CAT) , yang disebabkan fenomena alam, atau juga dikenal jet stream. CAT umumnya terjadi pada ketinggian sekitar 40.000 kaki di mana terbentuk jet stream yang banyak dimanfaatkan pesawat untuk efisiensi bahan bakar.
JENIS TURBULENSI YANG PALING DITAKUTI PILOT ????
Para pilot di seluruh dunia paling takut dengan yang namanya CAT karena tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dideteksi oleh radar cuaca. Makanya para penerbang setelah mendapat ATPL (Airline Transport Pilot Licence) akan mengikuti suatu training untuk mengantisipasi kejadian tersebut. Nama trainingnya adalah windshear training.
Dua mekanisme umum penyebab terjadinya CAT yaitu Kelvin Helmholtz Instability (KHI) dan gelombang gunung.CAT akibat gelombang gunung terbentuk ketika angin bertiup melewati gunung dengan kecepatan 10 m/s atau lebih pada kondisi atmosfer yang stabil di atasnya (Belson, 2004). Ketika parsel udara dipindahkan secara vertikal melewati gunung, maka terjadi ketidakseimbangan antara gaya gravitasi dan gaya apung. Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan parsel mengalami percepatan vertikal hingga mencapai level tertentu untuk mencapai keseimbangan. Situasi tersebut menyebabkan parsel mengalami osilasi secara vertikal dan lateral.
Kasus Etihad dan Hong Kong Airlines Turbulensi
TEMPO.CO, Jakarta – Dua pesawat asing mengalami turbulensi di Indonesia pada awal pekan Mei 2016. Turbulensi pertama dialami pesawat Etihad Airways EY474 rute Abu Dhabi-Jakarta pada 4 Mei 2016. Tiga hari kemudian, kejadian serupa dialami Hong Kong Airline HX6704 rute Denpasar-Hong Kong.
Menurut BMKG, fenomena
skala kecil ini memiliki ukuran puluhan-ratusan meter dengan waktu beberapa
detik atau menit, tapi dapat berulang pada tempat yang sama atau daerah
sekitarnya. Fenomena ini sangat sulit dideteksi peralatan pengamatan
konvensional model cuaca atau satelit. BMKG memperkirakan kekuatan goncangan turbulensi pada pesawat Etihad
Airways EY474 sudah pada tingkat severe atau parah. Pada level
ini, pesawat mengalami perubahan ketinggian dan arah yang besar, sehingga
pesawat tidak dapat terkontrol dalam beberapa saat.
Berdasarkan analisis citra
satelit Himawari 8 produk jenis awan dan kanal 8, 9, dan 10, antara pukul 13.00
dan 14.00 WIB, EY474 tidak memasuki awan cumulonimbus (CB)
pada jalur penerbangan. Kejadian ini disebut turbulensi cuaca cerah clear
air turbulence (CAT), yang terjadi secara umum pada lapisan atas
atmosfer 30-50 ribu kaki.
Jadi BMKG mengindikasikan turbulensi tingkat parah tersebut berasal dari
kombinasi dari gelombang dekat Pegunungan Bukit Barisan di Sumatera bagian
selatan dan awan CB di sekitar jalur penerbangan EY474.Turbulensi pada Hong
Kong Airlines HX6704 terjadi pada ketinggian 41 ribu kaki. BMKG memperkirakan
kekuatan goncangan tersebut juga pada level severe. Tapi, karena
skalanya kecil, peralatan pengamatan cuaca dari produk SigWx WAFC London dan
Washington tidak mendeteksi turbulensi cuaca cerah.
BMKG mengindikasikan turbulensi tersebut merupakan akibat peningkatan perbedaan
kecepatan angin pada level atas di level tropopause (39-45
ribu kaki).

